Hukum Merayakan Tahun Baru Dalam Islam

Apa Hukum Merayakan Tahun Baru?Setiap akhir tahun, kita akan dipertemukan kembali dengan pembahasan mengenai hukum merayakan tahun baru, mengucapkan selamat natal, dsb. Bisa dibilang, ini adalah perdebatan tahunan yang sama rutinnya dengan tahun baru itu sendiri.
Hukum Merayakan Tahun Baru Dalam Islam

Diskusi mengenai hukum agama agar tak menyimpang dari ajaran agama tersebut, haruslah berpegang pada dasar hukum yang ada. Jadi ketika kita memperdebatkan hukum merayakan tahun baru, maka Al-Qur’an dan sunah wajib menjadi pegangan utamanya.

Sebelum melakukan sesuatu, ada baiknya kita mengerti hakikat perbuatan kita, begitu pula dengan turut merayakan pergantian tahun. Dari berbagai sumber sejarah, umumnya perayaan tahun baru merujuk pada kebiasaan bangsa Romawi dalam rangka menghormati dewa mereka.

Adalah Julius Caesar pada 45 SM yang memberlakukan kalender baru, menggantikan penanggalan lama yang telah dipakai sejak 7 abad sebelum masehi.
Dalam buku New Year's Celebrations yang disusun oleh Katie Kubesh, Niki McNeil, dan Kimm Bellotto, Julius  Caesar dan senat Romawi masa itu memilih nama Dewa Janus sebagai awal tahun, yang kemudian disebut Januari.

Alasan pemilihan Janus adalah karena dewa itu memiliki dua wajah. Yang satu menghadap ke depan, satu lagi ke belakang. Yang demikian sebagai lambang pergantian tahun yang lalu, kepada yang akan datang.

Sejak kalender ini berlaku, setiap malam 31 Desember masyarakat Romawi melaksanakan ritual untuk menghormati dewa mereka. Koin emas bergambar Dewa Janus dipersembahkan agar kehidupan mereka di tahun yang akan datang terberkati.

Penanggalan oleh Julius Caesar ini kemudian disebut Kalender Julian, yang selanjutnya dimodifikasi menjadi Kalender Gregorius atas persetujuan Paus Gregory XIII pada tahun 1582. Penetapan tahun Masehi didasarkan pada tahun kelahiran Yesus (Isa al Masih versi umat Kristen) agar penghitungan Hari Paskah lebih mudah, disesuaikan dengan tahun berdirinya Roma.

Melihat pada fakta sejarah di atas, jelaslah bahwa perayaan tahun baru bukan berasal dari budaya Islam. Budaya Islam merupakan syariat Islam itu sendiri, sesuatu yang tidak sesuai syariat maka tidak boleh dibudayakan.

Kebanyakan orang kemudian akan berdalih bahwa perayaan tahun baru oleh bangsa Romawi berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum muslimin masa ini. Kita hanya bersenang-senang tanpa ada ritual ibadah apa pun.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam datang ke Madinah, penduduk setempat biasa merayakan dua hari besar, Nairuz dan Mihrajan. Maka beliau bersabda, “Aku mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; Idulfitri dan Iduladha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i). 
Hari raya Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk Madinah hanya diisi dengan bermain dan makan-makan, tanpa ada ritual sama sekali. Tapi sumber awal dari dua perayaan ini adalah kebiasaan orang Majusi. Oleh karena budaya itu dicetuskan oleh orang kafir, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pun melarangnya.

Melihat dari apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tersebut, maka jelaslah hukum merayakan tahun baru adalah haram. Karena pada mulanya dilakukan oleh orang-orang kafir, meski kita saat ini tidak merayakan dengan unsur ibadah sama sekali.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melarang umat beliau bukan tanpa alasan. Hal demikian adalah bentuk kasih sayangnya agar kita tidak terjerumus pada kekafiran, dan menjadi kaum yang dimurkai Allah.
“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud).

Belum ada Komentar untuk "Hukum Merayakan Tahun Baru Dalam Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel