Hukum Meninggalkan Sholat Jumat

Hati-Hati, Beginilah Hukum Meninggalkan Sholat Jumat – Banyak orang memilih menunda, bahkan meninggalkan sholat, dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Dikejar deadline, memenuhi target, dan urusan dunia lainnya, telah melalaikan kita dari kewajiban yang sebenarnya adalah kebutuhan kita sendiri.
Hukum Meninggalkan Sholat Jumat
Jika sholat wajib “biasa” bisa ditunda, bagaimana pula dengan sholat Jumat yang harus dikerjakan berjamaah di awal waktu? Tentu pada akhirnya, kewajiban ini akan ditinggalkan. Padahal hukum meninggalkan sholat Jumat sangat berat dalam pandangan ulama.

Kewajiban melaksanakan sholat Jumat disebutkan Allah dalam firman-Nya, surah Al Jum’ah ayat 9, yang artinya; Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Menurut para ahli tafsir, kata “bersegera” bukan berarti tergesa-gesa. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, menyebutkan, kata fas’au bermakna “perhatikan betul-betul dalam perjalanan menuju sholat Jumat”.

Perintah melaksanakan sholat Jumat juga disandingkan dengan perintah meninggalkan jual beli. Maksudnya adalah, jika telah terdengar seruan untuk sholat (Adzan), maka tinggalkanlah urusan dunia sejenak. Karena pada hakikatnya, rezeki seluruh manusia, bahkan makhluk seisi dunia ini, diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sejak masa Khalifah Utsman bin Affan, azan sholat Jumat dikumandangkan dua kali. Hal itu telah disepakati oleh para sahabat yang masih hidup, sehingga bukan merupakan bid’ah meski tidak dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Tujuannya, agar para laki-laki muslim bersiap saat azan pertama dikumandangkan, sedangkan azan yang nida’ (panggilan yang hakiki) adalah pada azan kedua.

Mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali) bahkan mengharamkan jual beli saat khatib telah naik mimbar (Mawahib al-Jalil, 2/180; al-Majmu’, 4/419; dan al-Mughi, 3/162). Hal ini berlaku bagi mereka yang terkena hukum wajib melaksanakan sholat Jumat. 

Maka, misalnya Anda adalah seorang pedagang, menitipkan dagangan kepada wanita untuk jual beli kepada selain laki-laki muslim, tetap tidak mengapa. Karena hukum meninggalkan sholat Jumat tidak dikenakan kepada 4 orang ini: 
Budak yang dimiliki
Wanita
Anak kecil
Orang yang sakit.
Hal tersebut berdasarkan hadist Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “(sholat) Jumat adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jemaah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al Albani. 

Seorang laki-laki muslim dewasa yang dengan sengaja meninggalkan sholat Jumat, maka ia telah melakukan dosa besar. Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya, “Hendaklah orang yang suka meninggalkan sholat Jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak, Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim No. 865).

Dalam hadis lain bahkan disebutkan, jika seorang muslim meninggalkan sholat Jumat sebanyak tiga kali, maka Allah akan menutup hatinya. Alangkah merugi orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada banyak hikmah kehidupan yang dapat menjadi jalan hidayah, tapi tak tergapai olehnya karena hatinya telah mati.

Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum meninggalkan sholat Jumat adalah haram, karena mengakibatkan matinya hati dan dosa yang teramat besar. Semoga kita semua terhindar dari hal yang demikian.
BAGIKAN
| |

Tinggalkan komentar