Majas Pleonasme: Pengertian, Contoh, Dan Faktor

Majas Pleonasme, Faktor, Karakteristik dan Contohnya – Dalam materi Bahasa Indonesia, dipelajari tentang gaya bahasa atau majas. Penggunaan gaya bahasa akan membuat sebuah tulisan menjadi lebih estetik sekaligus memberikan efek tertentu bagi pendengar atau pembaca yang berkaitan dengan maknanya. Majas biasanya berbentuk ungkapan atau kata kiasan. Majas sendiri terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan bentuk atau susunan kalimatnya dan penyampaian maknanya. Kali ini akan dibahas salah satu majas yang masuk dalam kategori penegasan, yaitu majas pleonasme.

Majas Pleonasme: Pengertian, Contoh, Dan Faktor

Pengertian Majas Pleonasme

Secara etimologi, pleonasme berasal dari bahasa Yunani ‘pleonasmus’ yang memiliki arti ‘kata yang berlebihan’. Sedangkan majas pleonasme sendiri merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menegaskan arti dari sebuah kalimat dengan menambahkan frasa-frasa yang cenderung berlebihan. Dalam penerapannya, majas ini juga menggunakan keterangan tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan. Namun, justru kata keterangan tambahan itulah yang mempertegas dan memperjelas kalimat tersebut.

Faktor Dan Karakteristik Majas Pleonasme

Pleonasme muncul karena adanya faktor-faktor tertentu. Faktor penyebab ini juga sekaligus menjadi ciri atau karakteristik dari majas pleonasme itu sendiri. Apa saja faktor-faktor tersebut? Berikut adalah 6 faktor penyebab pleonasme.

  • Hiponim
    Faktor pertama yang membentuk pleonasme adalah hiponim. Hiponim yang berasal dari bahasa Inggris hyponimy merupakan satu frasa atau kata yang maknanya termasuk atau tercakup di dalam frasa atau kata lain yang lebih umum.

Contoh: Sebagai hadiah untuk menyambut kelulusanku teman-teman sekelas membawakan buket yang terdiri dari berbagai jenis bunga, seperti bunga mawar, baby’s breath, ranunculus, bunga carnation dan lili.

  • Terdapat unsur singkatan yang sudah dinyatakan dengan lengkap
    Contoh: Squad Bali FC tidak mampu merebut kemenangan dari pertandingan melawan Arema FC.
  • Terdapat dua atau lebih kata dengan persamaan (bersinonim) pada satu frasa.
    Contoh: Soni memiliki masalah kesulitan mendengar bahkan dari sejak ia masih kecil.
  • Terdapat kata bentuk jamak yang dinyatakan dua kali
    Contoh: Setiap hari senin para siswa-siswa diwajibkan mengikuti upacara bendera.
  • Sudah ada arti kata pada kata lain yang telah membentuk sebuah kalimat
    Contoh: Tadi siang saat hujan turun dengan deras, ibu menyuruh adik untuk masuk ke dalam Rumah.
  • Terdapat kata penanda jamak yang kemudian diikuti oleh kata benda yang juga berbentuk jamak
    Contoh: Berbagai jenis buku di perpustakaan sekolah sudah aku baca.

6 hal di atas adalah faktor yang menjadi penyebab terjadinya pleonasme berdasarkan beberapa contohnya. Faktor di atas bisa juga sekaligus disebut sebagai karakteristik dari gaya bahasa pleonasme itu. Meskipun terlihat berlebihan, namun gaya bahasa ini justru menekankan dan menegaskan kalimat yang ingin disampaikan. Berikut ini adalah contoh-contoh lain dari majas pleonasme yang bisa ditemukan dalam percakapan maupun dalam teks sastra.

Contoh Kalimat Majas

  1. Sopir bus yang kukendarai terpaksa menepikan kendaraannya ke samping karena ada masalah pada bagian mesinnya.
  2. Untuk melihat pelangi yang muncul setelah hujan dengan lebih jelas, aku mendongakkan kepalaku ke atas.
  3. Semua bapak-bapak di RW 03 berkumpul pagi-pagi di balai dusun untuk melakukan kerja bakti.
  4. Aku membawakan sekeranjang parsel berisi berbagai macam buah, mulai dari apel, jeruk, anggur hingga kelengkeng untuk Ani yang sedang sakit di rumah sakit.
  5. Ayah Putra memelihara beraneka jenis burung bersuara merdu di rumahnya.

Demikian tadi penjelasan lengkap tentang majas pleonasme yang merupakan salah satu gaya bahasa dalam Bahasa Indonesia. Gaya bahasa ini bisa ditemukan dengan mudah ketika Anda melakukan percakapan di kehidupan sehari-hari dengan orang lain.

BAGIKAN
| |

Tinggalkan komentar