Pandangan Islam Tentang Demokrasi

Bagaimana Pandangan Islam Tentang Demokrasi? – Setiap mendekati Pemilu, baik pada tingkat daerah maupun nasional, akan ada kelompok yang memilih untuk tidak berpartisipasi dengan berbagai alasan. Salah satunya, karena demokrasi dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.
Jika faktor golput karena masing-masing calon atau partai dianggap sama buruknya, tidak banyak yang akan mempermasalahkan. Berbeda jika pilihan golput diambil dengan alasan agama. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang demokrasi?

Pada dasarnya, sistem demokrasi sangat bertentangan dengan hukum Islam. Hal ini dapat dilihat pada 3 hal berikut:

1. Undang-undang buatan manusia.
Dalam Islam, hukum tertinggi adalah hukum Allah. Bahkan para rasul-Nya sekalipun hanyalah penyampai. Malaikat, rasul, dan para nabi, tidak ikut serta memutuskan apa yang Allah perintah dan apa yang Dia larang. Semuanya mutlak hak prerogatif Allah.
Berbeda dengan sistem demokrasi, di mana undang-undang dibuat berdasarkan keputusan manusia, yang di dalamnya terdapat kepentingan pribadi dan kelompok. Belum lagi kelemahan manusia itu sendiri, yang tidak mengetahui secara pasti tentang baik dan buruk, serta sesuatu yang sudah dan akan terjadi. 

2. Suara mayoritas menjadi standar keputusan.
Karena dalam Islam hukum tertinggi adalah hukum Allah, maka Al-Qur’an dan sunah adalah dasar bagi setiap keputusan. Apa-apa yang diputuskan dalam musyawarah, harus mengikuti standar Al-Qur’an dan sunah. Tidak seperti sistem demokrasi, yang dalam memutuskan sesuatu berdasarkan suara terbanyak.

3. Persamaan hak laki-laki dan perempuan.
Karena dianggap lebih adil, dalam sistem demokrasi, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Sedangkan menurut Al-Qur’an dan sunah, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam berbagai hal. Misalnya hukum waris, aqiqah, persaksian, dll. Apa kemudian kita menganggap Allah tidak adil? Na’udzubillah, yang lebih tepat adalah, kita belum tahu hikmah apa yang ada di balik ketentuan Allah tersebut.

Perbedaan hak laki-laki dan perempuan dalam Islam bukanlah bentuk diskriminasi. Karena dalam Al-Qur’an juga disebutkan, bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukan karena gender atau lainnya, melainkan berdasarkan ketakwaan.
… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa … (QS. Al Hujurat 13).

Meski pandangan Islam tentang demokrasi pada beberapa hal nampak jelas bertentangan, namun demi kemaslahatan umat dan agama itu sendiri, umat Islam tidak dibenarkan bersikap keras selama masih ada bagian yang dapat diterima.

Bukan maksud meletakkan hukum Allah di bawah undang-undang buatan manusia. Tapi kita menerima aturan manusia selama tidak bertentangan dengan hukum Allah. 
Ikut dalam demokrasi yang kadung menjadi sistem sebuah negara merupakan bagian dari hifzh ad-din (menjaga agama dari kehancuran). Umat Islam harus melek politik, memahami dan ambil bagian dalam kegiatan bernegara dengan tetap menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai pegangan. 

Banyak dari ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam yang di dalamnya juga mengisyaratkan beberapa hal yang sejalan dengan prinsip demokrasi. Bahkan tanpa disadari, lebih demokratis daripada sistem demokrasi itu sendiri.

Salah satu contoh, soal perbudakan. Kita tahu negara-negara Eropa merupakan pengusung sistem demokrasi. Jika dilihat dari sejarah lampau, perbudakan justru subur di Eropa, dengan orang-orang Afrika sebagai budak mereka.

Dalam Islam, setiap manusia lahir dalam keadaan merdeka. Satu-satunya jalan seseorang menjadi budak adalah ketika mereka menjadi tawanan perang dan belum masuk Islam. Kemudian lihatlah bagaimana perlakuan kaum muslimin terhadap budaknya, dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ini:

“Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara yang ada di bawah kekuasaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka.” (hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari I/16, II/123-124 dan IV/125, terdapat pula dalam Adabul Mufrad No. 189, Muslim V/93, Abu Daud No. 5158, Tirmidzi I/353, Ibnu Majjah No. 3690, Baihaqi VIII/7, Ahmad V/158 dan 161 dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).

Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang tidak dapat dipaparkan keseluruhannya di sini.  
Meski demokrasi tidak sejalan dengan syariat Islam, umat Islam tidak boleh abai terhadap kondisi perpolitikan di negaranya. Jika tidak, justru kita akan jadi korban sistem demokrasi tersebut.

Apalagi saat ini ramai orang membicarakan sistem kekhalifahan yang disandingkan dengan radikalisme dan terorisme. Seolah kita yang berpegang pada Al-Qur’an dan sunah adalah orang-orang yang intoleran. Padahal sejarah membuktikan sebaliknya.

Umat Islam tidak perlu khawatir dengan stigma negatif terkait khilafah. Karena dengan atau tanpa isu apa pun, sesuai yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, khilafah pasti berdiri.
Caranya bukan dengan kekerasan, kebencian, dll seperti yang digambarkan musuh-musuh Islam. Meski pandangan Islam terhadap demokrasi tidak selaras secara keseluruhan, kita adalah umat yang diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Yang itu dimulai dari diri kita sendiri. Allahua’lam.

BAGIKAN
| |

Tinggalkan komentar