Pantun Jenaka: Pengertian, Contoh, Dan Penjelasannya

Pengertian dan Contoh Pantun Jenaka – Saat mempelajari Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, salah satu materi yang dipelajari adalah tentang pantun. Ya, pantun adalah jenis puisi lama yang pasti dipelajari saat membahas tentang karya sastra Bahasa Indonesia. Pantun memiliki banyak jenis yang bisa dikelompokkan berdasarkan isinya. Isi pantun yang berada pada baris ketiga dan keempat dalam satu bait pantun menjadi penentu jenis pantun tersebut. Salah satu jenis pantun yang ada adalah pantun jenaka yang akan dijelaskan dalam penjelasan berikut.

Pantun Jenaka: Pengertian, Contoh, Dan Penjelasannya

Pengertian Dan Contoh Pantun Jenaka 

Pengertian Pantun

Menurut Wikipedia, Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung. Dengan pantun jenaka, diharapkan suasana akan menjadi semakin riang. Sudah sedikit dijelaskan sebelumnya, jika pantun memiliki berbagai jenis tergantung pada isinya.

Berbeda dengan jenis puisi biasa, pantun yang merupakan puisi lama memiliki karakteristik yang berbeda serta ada aturan penulisan yang harus dipatuhi dalam menulis puisi lama ini. Termasuk juga aturan penulisan yang mengharuskan Anda menuliskan isi pantun di baris ketiga dan keempat dalam satu bait. Sedangkan baris pertama dan kedua adalah bagian sampiran pantun. Dalam pantun jenaka, karena isinya dibuat untuk menghibur pembacanya, maka disebut pantun jenaka.

Selain perbedaan bagian dalam satu bait, ada aturan lain yang mengikat dalam pembuatan pantun. Aturan pertama seperti yang sudah sedikit dijelaskan di atas, satu bait pantun terdiri dari 4 baris dengan susunan bagian di baris pertama dan kedua adalah sampiran sedangkan bagian di baris ketiga dan keempat disebut dengan isi.

Dari isi di baris ketiga dan keempat inilah kemudian dapat dikelompokkan jenis pantun. Pada pantun jenis jenaka, baris ketiga dan keempatnya berisi hal yang lucu dan menghibur sehingga disebut pantun jenaka.

Ciri khas yang dimiliki oleh setiap pantun adalah sajak atau rima. Rima adalah bunyi akhir kalimat dalam satu baris pantun. Pantun memiliki rima berpola a b a b atau a a a a. Dengan menggunakan salah satu rima di atas, maka bunyi akhir pantun akan semakin indah. Begitu pula jika ingin membuat pantun jenaka. Yang membedakan adalah pada baris ketiga dan keempat yang merupakan baris isi berisi hal yang lucu dan menghibur. Berikut beberapa contohnya.

Contoh Pantun Jenaka

Jalan-jalan lewat rawa-rawa
Dari rumah lewat pohon palem
Sungguh hati tak tahan tawa
Ada ayam pakai helm

Ke pasar membeli es serut
Es serut dimakan adik imut
Wajahmu memang membuatku salut
Walau terkadang kau suka kentut

Pergi ke pasar lewat empang
Baru berjalan bertemu Gilang
Sungguh adek hati bimbang
Kakak botak kok minta dikepang

Membaca koran sambil di depan adek
Adek duduk pake celana pendek
Kamu dan dia sama-sama jelek
Karena itu tak usah saling mengejek

Menangkap ikan di rawa-rawa
Ikan dogoreng sambil minum susu
Perutku sakit karna tertawa
Melihat nenek pakai gigi palsu

Ke pasar beli perkutut
Belum di rumah perkutut hilang
Hati dongkol mendengarmu kentut
Kentut berbau tak bilang-bilang

Beli ikan di dalam peti
Ikan dimasak disambal terasi
Lagak bergaya bak selebriti
Diajak makan dompet tak ada isi

Beli jeruk berwarna kuning
Beli terong berwarna ungu
Kakek senang bergigi kuning
Daripada putih ternyata palsu

Memasak ikan menggunakan panci
Paling enak pake jeruk nipis
Gayanya aja kayak selebriti
Tapi sayang, dompetnya tipis

Ban mobil bocor, ganti ban serep
Mau diganti lupa taruh kunci
Dari jauh diliat cakep
Didekati ternyata banci

Jika sudah merasakan jatuh cinta
Hati terasa berbunga – bunga
Jika sudah terbawa suasana
Senyum sendiri seperti orang gila

Dari beberapa contoh di atas, Anda pasti tidak akan bisa menahan tawa karena isi pantun yang sangat menghibur dan lucu. Ya, itulah fungsi pantun jenaka yang dibuat untuk tujuan menghibur pembacanya. Meskipun begitu, dalam pembuatan pantun jenis ini juga tidak boleh melanggar aturan-aturan penulisan puisi lama ini.

BAGIKAN
| |

Tinggalkan komentar