Simak Penjelasan Hukum Islam Tentang Dropship

Dagang Online dari Rumah? Simak Hukum Islam Tentang Dropship – Dropship atau drop-shipping menjadi salah satu bisnis yang marak dikerjakan saat ini. Seiring dengan perkembangan e-commerce, dropship bisa menjadi pilihan usaha yang cukup mudah dan tidak memerlukan modal besar.
Simak Penjelasan Hukum Islam Tentang Dropship
Tapi sebagai muslim, kita harus berhati-hati dalam mencari nafkah, termasuk pilihan berbisnis sebagai drop-shipper. Apakah hukum Islam tentang dropship termasuk halal?
Berdagang dengan sistem dropship adalah salah satu teknik pemasaran. Caranya, penjual tidak memiliki stok barang tapi ikut mempromosikan barang tersebut bermodal amunisi periklanan dari pemiliknya.
Jika seseorang memesan barang, maka penjual akan meminta pemilik barang untuk mengirimkan barang tersebut kepada si pembeli. Keuntungan yang didapat penjual adalah selisih harga dari pemilik barang dengan harga jual kepada pembeli.
Simak Penjelasan Hukum Islam Tentang Dropship
Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, “Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku lalu ia memintaku untuk menjual barang yang belum aku miliki. Yaitu aku membelinya dari pasar lalu aku menjual barang tersebut kepadanya. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lalu bersabda, ‘Jangan engkau menjual barang yang bukan milikmu.’” (HR. Tirmidzi No. 1232). 
Ibnul Mundzir mengatakan, “Menjual barang yang belum dimiliki ada dua bentuk. Pertama, seseorang berkata: ‘Saya menjual kepadamu budak atau rumah tertentu.’ Namun rumah atau budak tersebut tidak ada. Maka ini seperti jual-beli gharar (meragukan) karena adanya risiko rugi atau ketidak-ridaan salah satu pihak. Kedua, seseorang mengatakan, ‘Rumah ini aku membelinya untukmu dari pemiliknya (padahal belum terjadi).’ atau mengatakan, ‘Rumah ini telah diserahkan pemiliknya untukmu (padahal belum).’”
Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Kisah Hakim bin Hizam pas dengan bentuk kedua.” (Fathul Bari 6/460).
Jika hanya melihat dropship dari sisi ketiadaan kepemilikan barang oleh penjual, maka hukum Islam tentang dropship bisa jadi haram. Tapi dalam Islam, setiap tranksaksi harus jelas akadnya. Maka dari segi fikih, kita dapat memilih setidaknya 3 akad, agar jual beli ini menjadi halal.
1. Akad Samsarah
Dikenal dengan sistem makelar, pelakunya disebut simsar (orang yang menghubungkan antara produsen dengan pembeli).
Transaksi dengan akad samsarah dibolehkan dengan syarat:

  • Harga jual sesuai kesepakatan antara produsen dengan simsar, dan simsar dilarang mengubah harga tanpa sepengetahuan produsen/pemilik barang.
  • Komisi dari pemilik barang berupa angka yang jelas (fixed), bukan persentase.

2. Wakalah bil Ujrah.

Wakalah artinya perwakilan. Salah satu perwakilan yang dibolehkan adalah perwakilan dalam jual beli. Maka disebut wakalah bil ujrah. Syarat dibolehkannya jual beli dengan sistem ini adalah:

  • Orang yang mewakilkan dan yang diwakilkan sudah baligh dan berakal.
  • Orang yang mewakilkan tidak boleh menyerahkan mandat lagi ke orang lain tanpa seizin dari yang diwakilkan.
  • Yang mewakilkan tidak mengubah harga tanpa seizin yang diwakilkan.
  • Yang mewakilkan mengganti rugi jika terjadi kerusakan barang karena kelalaiannya.

3. Murabahah
Dalam konsep murabahah, modal dan keuntungan sama-sama diketahui oleh penjual dan pembeli. Metode dropship dapat dikatakan murabahah dan halal jika memenuhi syarat berikut:

  • Harga awal dan keuntungan diketahui kedua pihak.
  • Barang yang dijual bukan komoditi riba.
  • Harus ada serah terima lebih dulu antara pemilik barang dengan penjual.

Hukum Islam tentang dropship bisa jadi halal jika Anda memilih salah satu dari tiga akad di atas. Rezeki yang berkah tentu didapatkan dengan cara yang berkah pula. Sekian artikel tentang hukum dropship dalam Islam, semoga dapat membantu dan bermanfaat. Jika ada kritik, saran, dan masukan, silahkan untuk berkomentar.
BAGIKAN
| |

Tinggalkan komentar